Langsung ke konten utama

Situs resmi Pemprov Sulawesi Tenggara diretas hacker yang mengatasnamakan Bjorka

  Jamberita - Situs resmi Pemprov Sulawesi Tenggara (Sultra) diretas hacker yang mengatasnamakan Bjorka. Aksi peretasan tersebut disertai dengan sejumlah sindiran, termasuk kepada Ketua DPR Puan Maharani yang dulu menangis saat harga BBM naik. Hacker Bjorka awalnya menyinggung sejumlah kasus yang baru saja terjadi di Indonesia. Kasus tersebut salah satunya adalah pembunuhan berencana oleh mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo terhadap ajudannya Brigadir Yosua Hutabarat atau Brigadir J. "Seperti kasus Ferdy Sambo, KM 50, 23 koruptor yang bebas secara gampang dan ditambah lagi dengan Kenaikan BBM yang merugikan rakyat kecil," ujar Bjorka. Bjorka kemudian lanjut menyinggung soal kenaikan harga BBM yang disebut merugikan rakyat kecil. Dia menyebut nama Puan Maharani dan membandingkan sikapnya dulu dengan sekarang. "Dulu ibu Puan Maharani menangis Karena Kenaikan harga BMM, sekarang dia bahagia di dalam ruangan tanpa melihat mahasiswa yang kepanasan di luar untuk menyerukan a...

Ratu Elizabeth II, Warisan yang Tak Ada Duanya

 

Editor: Ara Wijaya

Jamberita - Di usianya yang baru 25 tahun, Ratu Elizabeth harus menerima takhta yang tak ia duga sebelumnya. Artinya ia harus mengabdikan dirinya untuk memberikan pelayanan kepada warganya dan menjaga monarki di saat dunia berubah.

Sepanjang 1.200 tahun peperangan, kematian, dan pengembangan kerajaan, suksesi dalam monarki Inggris jarang turun dalam satu garis darah yang lurus.


Ada takhta yang diwarisi dari ayahnya yang meninggal, ada pula yang harus merebutnya lewat perang, bahkan sampai pembunuhan.

Ads by hiklan.com


Tapi bagi Elizabeth yang masih muda, mahkota emas dengan 440 batu berlian didapatkannya lewat sebuah skandal, 'royal scandal'.


Dengan berat 2,3 kilogram, mahkota St Edward yang disematkan saat ia dinobatkan menjadi Ratu Inggris, mengubah hidup Lilibet Windsor yang harus menanggung berat kedaulatan.


Di pundaknya, Elizabeth punya beban menanggung harapan dari kerajaan Inggris, orang-orang yang ia cintai, keinginan dan keinginan rakyatnya. Seringkali ia juga menanggung kekecewaan rakyatnya.


Tapi selama 70 tahun berkuasa, Ratu Elizabeth tetap teguh pada janjinya sendiri.


"Seluruh hidup saya, apakah itu panjang atau pendek, akan diabadikan untuk melayani Anda."


Ia hidup lebih lama dari yang ia bayangkan, tapi pengabdiannya tidak pernah goyah.


Tak dilahirkan jadi ratu

Elizabeth Alexandra Mary Windsor lahir pada 21 April 1926, di saat kakeknya, Raja George V berkuasa.


Sebenarnya ia berada di urutan ketiga dari garis penerus kerajaan, setelah ayahnya Albert, 'Duke of York' dan pamannya David.


Awalnya mungkin ia hanya jadi pelengkap di House of Windsor, di mana biasanya keturunan pria lebih mendapatkan pengakuan.


Tapi ada sesuatu dalam diri Elizabeth sejak kecil, sepertinya ia tahu jika ia ditakdirkan untuk menjadi seseorang yang besar.


"Dia punya aura otoritas yang menakjubkan saat masih balita," kata Winston Churchill tentang Elizabeth yang berusia dua tahun, menggambarkannya sebagai seseorang yang memiliki "karakter".


Beberapa dekade kemudian, ketika Winston berusia 77 tahun dan Elizabeth berusia 25 tahun, Winston menjadi yang pertama dari 13 perdana menteri Inggris di bawah Elizabeth.


Apa yang sebenarnya mengubah takdirnya? Sebuah cinta terlarang.


Ketika Raja George V meninggal di tahun 1936, David mengambil takhta sebagai Raja Edward VIII, tapi kemudian mundur setahun kemudian hanya karena ingin menikahi Wallis Simpson, seorang janda dari Amerika Serikat.


Keputusannya untuk lebih memilih cinta dari pada mahkota membuat monarki Inggris terjebak dalam krisis. Albert, ayah Elizabeth terpaksa harus mengambil kekuasaan dan menjadi Raja George VI.


Elizabeth, usia 10 tahun, yang biasa dipanggil Lilibet oleh keluarganya tiba-tiba disiapkan untuk menjadi penerus kerjaan.


Masa depan untuk menyelamatkan kerajaan ada di tangan Albert dan Elizabeth.

Ads by hiklan.com



15 tahun kemudian, Lilibet berganti panggilan, menjadi 'Her Majesty', yang juga melewati masa-masa jatuh cinta, bertahan dari perang, dan kehilangan orang-orang di sekelilingnya.


Menyemangati warganya saat perang

Elizabeth pernah menggambarkan penobatan dirinya ke singgasana kerajaan "sangat mendadak", tapi ia sudah terlatih sepanjang hidupnya.


Di bawah pengawasan guru privat, sang putri mempelajari segala hal, mulai dari geopolitik, sejarah konstitusional hingga agama, hukum, dan bahasa. Dia membaca surat-surat resmi dengan ayahnya dan bertemu secara informal dengan kepala negara.


Dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih bernama 'We Four' oleh ayah mereka, Elizabeth dan adik perempuannya, Margaret, juga meluangkan waktu untuk bermain.


Elizabeth berusia 13 tahun di tahun 1939, ketika Perang Dunia II pecah dan paham Nazi menyelimuti Eropa.


Ibunya, mendiang Elizabeth Bowes-Lyon, merasa yakin untuk menjaga keluarganya di Istana Buckingham saat Jerman menggempur London dengan serangan bom. Saat itu ibunya mengatakan, "anak-anak tak akan pergi tanpa saya. Saya tak akan pergi tanpa Raja, dan Raja tak akan pernah pergi".


Saat perang makin berkecamuk, kedua anak-anak itu dievakuasi ke Kastil Windsor dan di usia 14, Elizabeth tampil pertama kalinya di acara radio.


"Kita tahu dari pengalaman soal apa itu artinya jauh dari yang orang-orang yang kita paling cintai," kata Putri Elizabeth, yang memberikan semangat bagi anak-anak Inggris yang terpaksa terpisah dari keluarganya.


Di tahun 1945, di usia 18 tahun, Elizabeth ikut turun berperang. Ia dilatih untuk menjadi pengendara dan mekanis bersama 'Auxiliary Territorial Service'.


"Salah satu yang membuatnya senang adalah saat tangan dan kukunya kotor dan penuh dengan noda, menunjukkan dirinya sebagai buruh kepada teman-temannya," tulis Collier's Magazine beberapa tahun kemudian.


Sebuah romansa kerajaan

Di tahun 1947, saat berusia 21 tahun, Elizabeth menikah dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal. Warga Inggris berdarah Yunani, yang juga sepupu jauhnya.


Mereka pertama kali kenal di sebuah acara pernikahan di tahun 1934, saat ia baru saja berusia 8 tahun. Tapi baru di tahun 1939, saat Elizabeth berusia 13 tahun dan Philip berusia 18 tahun, cinta bersemi antara keduanya.


Putri yang pendiam, sementara Philip yang ramai, senang bermain kroket bersama. Sampai sepupunya Elizabeth, Margaret Rhodes mengatakan, "ia tak pernah melihat siapa pun lagi".


Philip, yang mengatakan dia "jatuh cinta sepenuhnya dan tanpa pamrih", merayu calon Ratu lewat surat-surat cinta. Pasangan itu bertunangan pada tahun 1946, meski tunangan tersebut dirahasiakan kepada publik sampai Elizabeth dewasa di tahun 1947.


Mereka menikah di Westminster Abbey pada bulan November tahun itu.


Elizabeth sangat populer di kalangan warga Inggris sehingga banyak yang menyumbangkan untuk membantu membayar gaun pengantinnya.


Kue pengantin, yang tingginya 2,7 meter dan beratnya hanya lebih dari 220 kilogram, dibuat dengan buah-buahan kering disumbangkan dari Australian Girl Guides.


Pangeran Philip memotong kue yang menjulang tinggi dengan pedangnya, dan satu potongan dikirim kembali ke Australia sebagai ucapan terima kasih.


Keduanya menikah selama lebih dari 73 tahun dan Ratu seringkali mengatakan Philip sebagai kekuatannya dan alasannya untuk bertahan.


"Saya berutang banyak darinya," ujar Elizabeth saat perayaan pernikahannya di tahun 1997.


Ikatan keduanya menjadi sebuah ujian, tapi juga membantu mereka melewati masa-masa sulit, seperti saat "annus horribilis" atau masa-masa kelam di tahun 1992 dan meninggalnya Putri Diana.


Komentar